Kerajaan Sriwijaya

3 min read

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya – Sejarah berdirinya Nusantara tentu tidak lepas dari perjuangan para pahlawan. Selain perjuangan para pahlawan, tentunya kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia juga memiliki pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia. Salah satu kerajaan besar yang ada di Indonesia adalah kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Melayu yang berada di pulau Sumatera serta memiliki pengaruh besar terhadap Nusantara. Nama kerajaan ini berasal dari Bahasa Sansekerta, sri artinya bercahaya dan wijaya yang memiliki arti kemenangan. Sehingga arti nama kerajaan ini berarti kemenangan yang bercahaya.

Daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang meliputi Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, bahkan hingga Pulau Jawa ini membuat nama Kerajaan Sriwijaya dikenal di seluruh Nusantara. Tidak hanya dari Nusantara saja, akan tetapi juga kerajaan ini dikenal hingga ke mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai sumber yang menyebutkan adanya kerajaan di Sumatera ini. Ada kabar yang mengatakan bahwa para pedagang dari Arab dan Cina pernah berdagang di Sriwijaya. Sedangkan menurut berita dari India, kerajaan di India pernah bekerja sama dengan kerajaan Sriwijaya.


Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya

Sebuah kerajaan yang besar tentunya memiliki sejarah jaya dan runtuhnya yang tentu akan selalu diingat oleh masyarakat Indonesia. Sejarah masa kejayaan kerajaan Sriwijaya dimulai sekitar abad ke 9 hingga abad ke 10 di mana saat itu kerajaan ini berhasil menguasai jalur perdagangan maritim Asia Tenggara.

Tidak hanya perdagangan maritim saja, akan tetapi juga berbagai kerajaan di Asia Tenggara berhasil dikuasai oleh Sriwijaya. Kerajaan di Thailand, Kamboja, Filipina, Vietnam, hingga Sumatera dan Jawa berhasil dikuasai Sriwijaya.

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya menjadi pengendali rute perdagangan lokal yang mana waktu itu seluruh kapal yang lewat akan dikenakan bea cukai. Mereka juga berhasil mengumpulkan kekayaan mereka dari gudang perdagangan serta melalui jasa pelabuhan.

Sayangnya, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya harus berakhir sekitar tahun 1007 dan 1023 Masehi. Bermula ketika Raja Rajendra Chola, seorang penguasa Kerajaan Cholamandala berhasil menyerang Sriwijaya dan berhasil merebut bandar-bandar kota Sriwijaya.

Terjadinya penyerangan ini karena kedua kerajaan ini saling bersaing pada bidang pelayaran serta perdagangan. Kerajaan Cholamandala bukan berniat untuk menjajah, akan tetapi ingin meruntuhkan armada kerajaan. Sehingga membuat kondisi ekonomi pada saat itu melemah serta berkurangnya pedagang.

Tidak hanya itu, kekuatan militer kerajaan juga melemah dan membuat prajurit Sriwijaya melepaskan diri dari kerajaan. Hingga, masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya berakhir sekitar abad ke-13.

Baca Juga: Kerajaan Mataram


Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya

Sebagai kerajaan yang pernah jaya di Nusantara, tentunya peninggalan kerajaan Sriwijaya tersebar di seluruh daerah kekuasaan mereka. Salah satu jenis peninggalan kerajaan Sriwijaya yang masih ada hingga saat ini adalah berupa prasasti. Berikut ini merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya.

1. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berada di bagian Barat Pulau Bangka. Bahasa yang ditulis pada prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno serta menggunakan aksara Pallawa. Prasasti ini ditemukan sekitar tahun 1892 bulan Desember.

Orang yang berhasil menemukan prasasti ini adalah J.K. van der Meulen. Prasasti ini berisi tentang kutukan bagi siapa saja yang membantah perintah serta kekuasaan kerajaan akan terkena kutukan.

2. Prasasti Kedukan Bukit

Seseorang bernama Batenburg menemukan sebuah batu tulis yang berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir pada 29 November 1920 Masehi. Ukuran dari prasasti ini adalah sekitar 45 x 80 centimeter serta ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti ini berisi tentang seorang utusan kerajaan yang bernama Dapunta Hyang yang melakukan perjalanan suci atau sidhayarta dengan menggunakan perahu. Dengan diiringi 2000 pasukan, perjalanannya membuahkan hasil. Saat ini, prasasti Kedukan Bukit disimpan di Museum Nasional Indonesia.

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Isi dari prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi mereka yang berbuat jahat di Sriwijaya. Keberadaan prasasti ini sama seperti prasasti Kedukan Bukit, yaitu disimpan di Museum Nasional Indonesia.

4. Prasasti Talang Tuwo

Residen Palembang, yaitu Louis Constant Westenenk menemukan prasasti pada 17 November 1920. Prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitar tepian utara Sungai Musi. Isi dari prasasti ini berisi doa-doa dedikasi dan menunjukkan berkembangnya agama Buddha di Sriwijaya.

Aliran yang digunakan di Sriwijaya adalah aliran Mahayana yang dibuktikan dengan kata-kata dari Buddha Mahayana seperti bodhicitta, vajrasarira, dan lain-lain.

5. Prasasti Ligor

Prasasti yang ditemukan di Thailand Selatan ini memiliki dua sisi, yaitu sisi A dan sisi B. Pada sisi A menjelaskan tentang gagahnya raja Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut ditulis bahwa raja Sriwijaya merupakan raja dari segala raja dunia yang sudah mendirikan Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Sedangkan untuk sisi B atau yang disebut prasasti ligor B berisi mengenai pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana. Gelar tersebut diberikan kepada Sri Maharaja yang mana berasal dari keluarga Sailendravamasa.

6. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah merupakan prasasti yang berhasil ditemukan di desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Bahasa yang digunakan pada prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa serta tersusun atas 13 baris kalimat.

Isi dari prasasti ini berisi tentang kutukan terhadap orang yang tidak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya. Diperkirakan, prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi. Konon, prasasti ini ditemukan di sebuah pinggiran rawa desa.

7. Prasasti Karang Birahi

Kontrolir L.M. Berkhout menemukan prasasti Karang Birahi pada tahun 1904 di sekitar tepian Batang Merangin, Jambi. Isi dari prasasti Karang Birahi juga kurang lebih hampir sama dengan prasasti di poin sebelumnya, yaitu mengenai kutukan bagi mereka yang tidak tunduk terhadap Sriwijaya.


Raja Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya

Raja Kerajaan Sriwijaya yang berhasil menaklukkan Jawa dan Melayu adalah Dapunta Hyang atau Sri Jayanasa dan memimpin pada tahun 671. Lalu pada tahun 728 hingga 742, Sriwijaya dipimpin oleh Rudra Wikrama yang melakukan utusan ke Tiongkok pada masa kepemimpinannya.

Pada tahun 702, Sriwijaya dipimpin oleh Sri Indrawarman dan dilanjutkan oleh Sri Maharaja pada tahun 775. Berkat kepemimpinannya, Kamboja dan Thailand berhasil ditaklukkan oleh Sriwijaya. Tahun 851, Sriwijaya dipimpin oleh Maharaja yang dilanjutkan oleh Balaputra Dewa di tahun 860 Masehi.

Raja Kerajaan Sriwijaya yang selanjutnya adalah Sri Udayadityawarman yang memimpin kerajaan pada tahun 960 Masehi dan dilanjutkan oleh Sri Udayaditya pada tahun 962 Masehi. Kepemimpinan Sriwijaya dilanjutkan oleh Sri Sudamaniwarmadewa dan Marawijayatunggawarman pada tahun 1044 masehi.

Kepemimpinan Raja Kerajaan Sriwijaya yang terakhir adalah Sri Sanggaramawijayatunggawarman pada tahun 1044 Masehi. Berkat kepemimpinannya, Sriwijaya berhasil ditaklukkan oleh India.

Baca Juga: Kerajaan Mataram Islam


Penutup

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang pernah jaya pada masanya. Bahkan, kerajaan ini dikenal hingga ke mancanegara. Berbagai berita luar negeri, mulai dari Arab hingga Cina membicarakan kerajaan yang berada di Pulau Sumatera ini.

Selain itu, jayanya kerajaan ini dibuktikan dari peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berupa prasasti. Peninggalan tersebut berhasil ditemukan di berbagai tempat sekaligus menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya ada dan pernah menguasai Asia.

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Islam Aceh

Ayu Utami
3 min read

Kerajaan Majapahit

Ayu Utami
4 min read

Kerajaan Kutai

Ayu Utami
4 min read

3 Replies to “Kerajaan Sriwijaya”

  1. 1024 M – Chola memulai invasi militer terhadap Sriwijaya, dipimpin langsung oleh Rajendra Chola. Sebelum menuju Sriwijaya, armada Chola terlebih dahulu menduduki kepulauan Andaman dan Nikobar. Kemudian, karena selat Malaka dijaga ketat, mereka menyerbu melalui jalur laut di bagian barat Sumatra dan selat Sunda yang sepi pengamanan. Dengan cepat, mereka menaklukkan Barus, pesisir Minangkabau dan Sunda, Lampung, Bengkulu, serta Komering. Kala itu, sebagian besar pasukan Sriwijaya tengah dikonsentrasikan di Tambralingga untuk menghadapi serbuan pasukan Khmer.

    1025 M – Satu persatu kota di Sriwijaya diduduki dan dibumihanguskan oleh armada Chola. Berturut-turut Palembang, Bangka, Jambi, Gelanggi, Panai, Muar, Gangga Negara, hingga pusat pemerintahan Sriwijaya di Kedah takluk. Maharaja Sangrama Wijayatungga (bersama dengan saudarinya) yang tengah berada di Kedah ditangkap dan dibawa ke Chola sebagai tawanan perang. Sang Maharaja kemudian dibebaskan kembali setelah mengaku takluk pada Rajendra Chola, sementara saudarinya diambil sebagai istri oleh Rajendra Chola. Kerajaan Sriwijaya pun menjadi bawahan Chola. Sementara Tambralingga dianeksasi oleh Khmer. Kahuripan mulai melancarkan ekspansi ke seluruh Bumi Jawa untuk menghapus hegemoni Sriwijaya di sana. Beberapa bangsawan Sriwijaya dikabarkan hijrah ke Kalimantan dan Filipina akibat invasi Chola, dimana mereka menjadi penguasa dari beberapa koloni Sriwijaya di sana. Salah satunya adalah kedatuan Madyaas, yang kemudian lepas menjadi negara merdeka. Biksu Atisha pulang kembali ke Benggala, setelah menyelesaikan pendidikan Buddha-nya dari Guru Besar Dharmakirti. Ia sendiri kemudian menjadi seorang Guru Besar yang giat menyebarkan Buddha Dharma di jazirah Bharata (India) dan Tibet.

    1028 M – Rajendra Chola menunjuk Sri Dewa sebagai raja baru Sriwijaya dibawah dinasti Chola, menggantikan Sangrama Wijayatungga. Sebelumnya, armada Chola terlebih dahulu menaklukkan Lamuri dan Langkasuka, dua negeri bawahan Sriwijaya terakhir di Tanah Melayu yang belum tunduk pada Chola. Koloni-koloni Sriwijaya di Kalimantan dan Filipina kemungkinan besar melepaskan diri menjadi negara-negara merdeka.

    1029 M – Chola menaklukkan negeri Batak Tua di pedalaman Toba. Sama halnya dengan Maharaja Sriwijaya, penguasa Batak juga ditangkap dan menjadi tawanan perang.

    1030 M – Prasasti Tanjore. Bangsa Chola menuliskan catatan kemenangan mereka dalam mengalahkan Sriwijaya dan menguasai selat Malaka. Al-Biruni dari Persia mengunjungi Sriwijaya. Kerajaan Sunda memerdekakan diri dari Sriwijaya.

    1035 M – Kalingga, koloni terakhir Sriwijaya di Jawa Tengah dianeksasi oleh Kahuripan.

    1044 M – Samara Wijayatunggawarman, adik dari Sangrama Wijayatungga yang berhasil meloloskan diri saat invasi Chola, mengkudeta Sri Dewa dan menobatkan dirinya sebagai Maharaja Sriwijaya. Ia memimpin pemberontakan melawan kekuasaan Chola. Kala itu, Rajendra Chola dikabarkan tengah mengunjungi Kedah untuk memantau situasi ibukota Sriwijaya tersebut. Konon, Rajendra Chola bertemu dengan seorang putri Brahmana bernama Sundari, yang membuatnya kasmaran. Ia pun mengirim prajuritnya untuk menculik sang putri. Sang prajurit berhasil melaksanakan tugasnya setelah membunuh Brahmana Rajasundara, ayah Sundari yang berusaha melindungi putrinya tersebut. Mendengar berita itu, Maharaja Samara Wijayatungga mengutus Senapati Purandara untuk membunuh Maharaja Chola tersebut, dan berhasil. Mereka kemudian memulai serangan terhadap tiap kota di Sriwijaya yang masih diduduki oleh pasukan Chola.

    1045 M – Sriwijaya sepenuhnya merdeka dari Chola, setelah peperangan besar antara armada Sriwijaya pimpinan Purandara melawan sisa-sisa pasukan Chola. Sriwijaya kemungkinan besar juga merebut kembali kota Chaiya dari kekuasaan Khmer. Maharaja Samara Wijayatungga kemudian memimpin ekspedisi ke Srilanka untuk membantu pembebasan negeri itu dari hegemoni Chola.

    1048 M – Armada Sriwijaya berhasil menguasai seluruh Srilanka. Maharaja Samara Wijayatungga lalu mendirikan pemerintahan langsung disana selama 5 tahun.

    1053 M – Maharaja Samara Wijayatungga meninggalkan Srilanka, setelah melantik Pangeran Kasyapa sebagai Raja Anuradhapura dengan gelar Mahendra VI. Ia kemudian pergi ke kerajaan Pandya (yang kala itu juga berada di bawah penguasaan Chola) di daratan India Selatan, mengusir pasukan Chola di sana, dan mengangkat seorang bangsawan setempat, Sundara Pandya sebagai Raja Pandya. Kedua negeri ini pun berada di bawah naungan Sriwijaya hingga beberapa dekade ke depan.

    1060 M – Prasasti Madirigiri. Inskripsi berisi pujian dari Raja Mahendra VI kepada Maharaja Samara Wijayatungga yang telah membantu membebaskan negerinya dari penjajahan Chola.

    1064 M – Aji Dharmawira (Suryanarayana/Sri Tribhuana Mauli?) diangkat menjadi raja bawahan Sriwijaya di kerajaan Malayu (Dharmasraya/Malayapura, Jambi-Minangkabau).

    1067 M – Pangeran Kulotungga (Diwakara), bangsawan berdarah Tamil-Melayu (keturunan Rajendra Chola dengan putri Sriwijaya yang dinikahinya di tahun 1025) mengabdi pada Maharaja Samara Wijayatungga kemudian dikirim sebagai duta besar ke Cina.

    1068 M – Pemberontakan Kedah. Seorang pangeran Srilanka yang dipengaruhi oleh Chola menundukkan Kedah dan mengangkat dirinya sebagai penguasa. Saat itu, para pembesar Sriwijaya termasuk sang Maharaja sedang tidak berada di ibukota. Sriwijaya mengirim Kulotungga untuk merebut kota itu kembali, dimana ia berhasil membunuh sang pangeran Srilanka dan mengusir armada Chola, yang konon dipimpin langsung oleh penguasanya kala itu, Maharaja Wirarajendra.

    1070 M – Konflik perebutan tahta di Chola. Maharaja Wirarajendra wafat, meninggalkan kekosongan pemerintahan di kerajaan Chola. Dua orang pangeran, yakni Athirajendra dan Kulotungga (yang telah kembali dari Sriwijaya) berkonflik. Athirajendra muncul sebagai pemenang dan naik tahta sebagai Maharaja Chola. Kulotungga yang sangat berambisi menjadi raja pun menyerang ibukota Chola berkali-kali, namun selalu gagal. Ia kemudian mundur ke Srilanka, menemui Mahendra VI yang mengusulkannya untuk meminta bantuan pada Sriwijaya. Kulotungga pun kembali ke Sriwijaya, memohon bantuan dari Maharaja Samara Wijayatungga. Sang Maharaja setuju, dan mengirimkan sejumlah pasukan pimpinan putra mahkota Sriwijaya, Pangeran Manabharana. Mereka mendirikan markas di Srilanka dan Pandya. Bersama dengan pasukan dari kedua negeri itu, armada Sriwijaya menggempur ibukota Chola dan berhasil menaklukkannya. Selama beberapa waktu, kota ini pun diduduki oleh Sriwijaya, hingga diangkatnya Kulotungga sebagai Maharaja Chola yang baru. Manabharana dan pasukannya pun memutuskan untuk kembali ke Kedah, melepaskan pengaruh Sriwijaya di daratan India.

    1071 M – Pangeran Wijayabahu dinobatkan sebagai penguasa Srilanka, mendirikan kerajaan Polonnaruwa setelah memindahkan ibukotanya ke tempat yang bernama sama. Ia kemungkinan melepaskan negeri itu dari hegemoni Sriwijaya.

    1080 M – Maharaja Samara Wijayatungga wafat. Manabharana naik tahta sebagai Maharaja Sriwijaya menggantikannya.

    1088 M – Perpecahan Sriwijaya. Penguasa Malayu, Dharmawira memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Sriwijaya, yang kala itu dipercaya berada di Chaiya. Dharmawira menguasai Sumatra dan kepulauan Riau, sementara Manabharana menguasai Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra. Kelak, kedua negara ini lebih dikenal dengan nama Dharmasraya (Malayapura) dan Tambralingga. Setelah ini, keduanya hidup berdampingan hingga beberapa dekade kemudian. Riwayat kemaharajaan Sriwijaya yang bersatu pun resmi berakhir.

    Jadi, sriwijayalah pemenang terakhir yang berhasil menguasai Cola dan India

Tinggalkan Balasan