Pakaian Adat Sulawesi Barat

Pakaian Adat Sulawesi Barat – Sulawesi Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya. Salah satu budaya tradisional yang berasal dari provinsi beribukota di Mamuju tersebut adalah pakaian adat Sulawesi Barat.

Nah, pada artikel kali ini kita akan membahas bersama-sama mengenai bagaimana pakaian adat Sulawesi Barat. Serta apa saja ciri khas dan nilai filosofis yang terkandung pada masing-masing busana tradisional tersebut.

Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, mari kita simak penjelasan lengkapnya pada artikel di bawah ini.


Pakaian Adat Sulawesi Barat

Pakaian Adat Sulawesi Barat
Pakaian Adat Sulawesi Barat
https://blogkulo.com/

Pakaian adat Sulawesi Barat dapat diartikan sebagai pakaian tradisional atau busana adat yang memiliki keunikan dan ciri khas dari Sulawesi Barat. Pakaian tradisional ini sebagai identitas suatu kelompok etnis yang mendiami daerah Sulawesi Barat.

Di Sulawesi barat sendiri dihuni oleh beberapa kelompok etnis, yakni suku Mandar, suku Toraja, dan suku Mamasa. Setiap kelompok suku tersebut memiliki adat istiadat tertentu yang menjadi kepercayaan mereka, kemudian menghasilkan produk budaya berupa pakaian adat. Maka tidak heran, jika pakaian tradisional tersebut menjadi ciri khas dari daerah Sulawesi Barat.

Pakaian adat Sulawesi Barat biasa digunakan pada kegiatan atau acara penting sesuai adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Salah satunya pakaian adat digunakan pada upacara pernikahan.


Nama Pakaian Adat Sulawesi Barat

Pakaian adat Sulawesi Barat cukup beraneka ragam. Berdasarkan suku di Sulawesi Barat, keberagaman pakaian adat dari daerah Sulawesi Barat ini dibedakan menjadi tiga jenis.

Ketiga jenis pakaian tersebut meliputi, pakaian adat suku Mandar, pakaian adat suku Toraja, pakaian adat Mamasa. Untuk penjelasan ketiga jenis pakaian tersebut dapat diamati sebagai berikut:

 

No Macam Macam Pakaian Adat Sulawesi Barat
1 Pakaian Adat Suku Mandar
2 Pakaian Adat Suku Mandar Wanita
3 Pakaian Adat Suku Mandar Pria
4 Pakaian Adat Suku Toraja
5 Pakaian Adat Suku Mamasa
6 Pakaian Adat Suku Mamasa untuk Bangsawan
7
Pakaian Adat Suku Mamasa untuk Masyarakat Umum

 

Pakaian Adat Suku Mandar

Suku Mandar adalah suku asli yang mendiami tanah Sulawesi Barat. Suku ini biasa menggunakan pakaian adat khas suku mereka. Biasanya mereka mengenakan pakaian adat mereka pada saat melangsungkan upacara adat pernikahan.

Pakaian yang biasa dikenakan suku Mandar cenderung sebagai pakaian yang terlihat sederhana, namun tetap mengandung nilai filosofi yang dalam sebagaimana kepercayaan yang dianut oleh suku asli Sulawesi Barat tersebut.

Pakaian Adat Suku Mandar Wanita

Pakaian Adat Suku Mandar Untuk Wanita
Pakaian Adat Suku Mandar untuk Wanita
http://www.adatnusantara.web.id/

Pakaian adat Sulawesi Barat oleh suku Mandar juga digunakan oleh kaum wanita. Pakaian khas ini yang digunakan oleh wanita Mandar dikenal dengan pakaian Pattuqduq Towaine.

Secara umum, pakaian tradisional ini digunakan pada saat menari tarian daerah Sulawesi Barat, yakni tari patuqdu. Selain itu, pakaian khas ini juga kerap dikenakan pada saat upacara adat pernikahan.

Busana tradisional ini memiliki ciri bagian lengan tidak sampai pergelangan tangan, atau dengan kata lain pakaian ini berlengan pendek. Pakaian ini dibuat dengan kombinasi warna yang cerah seperti warna merah, kuning, dan hijau.

Ada perbedaan dalam menggunakan pakaian adat untuk wanita Mandar. Berdasarkan kegunaannya, ketika pakaian Mandar digunakan pada saat menari tarian tradisional maka aksesoris yang terdapat pada pakaian tersebut berjumlah 18 buah, sedangkan ketika pakaian Mandar digunakan untuk upacara adat pernikahan maka aksesorisnya berjumlah 24 buah.

Aksesoris yang kerap ditambahkan pada saat mengenakan pakaian adat wanita Mandar ini meliputi hiasan kepala, ikat pinggang, serta perhiasan gelang.

Perhiasan gelang itu dibedakan menjadi beberapa macam gelang. Adapun daftar macam-macam gelang khas Mandar Sulawesi Barat adalah sebagai berikut:

  1. Gallang Balleq adalah sepasang gelang yang digunakan di kedua tangan, yakni kanan dan kiri. Gelang ini memiliki ukuran 15 sampai 20 cm.
  2. Poto adalah gelang kecil yang digunakan sebagai pengait gelang dengan ukuran lebih besar. Gelang ini juga digunakan di kedua pergelangan tangan.
  3. Jima Salleto adalah gelang dengan ukuran yang cukup lebar dan dikaitkan di bagian bahu wanita.
  4. Teppang adalah gelang yang dipakai dibawah gelang Jima Salleto.
  5. Jima Maborong adalah gelang yang digunakan para bangsawan. Gelang ini adalah pengganti dari gelang Jima Salleto.
  6. Sima-simang adalah gelang yang memiliki 8 buah bulir yang berukuran cukup besar.

Pakaian Adat Suku Mandar Pria

Pakaian Adat Suku Mandar Untuk Pria
Pakaian Adat Suku Mandar untuk Pria
https://www.selasar.com/

Bagi para kaum pria suku Mandar, pakaian yang biasa mereka kenakan terdiri dari busana atas yang berupa jas hitam, kemudian untuk bawahan mereka padu padankan dengan celana hitam beserta kain sarung tenun khas Mandar.

Kain tenun tersebut diperuntukkan sebagai ikat pinggang, yakni dengan cara melingkarkan kain sarung di pinggang menjuntai sampai ke batas lutut pria dewasa. Kain tenun ini cenderung berwarna kontras dari warna hitam busana atasan dan bawahan sebelumnya, sehingga menjadikan pakaian adat pria Mandar terlihat elegan dan menawan.

Penggunaan pakaian adat Sulawesi Barat ini diharapkan bahwa setiap pria suku Mandar berkarakter gesit dan cekatan dalam segala kegiatan dan pekerjaan.

Pakaian tradisional ini tidak lengkap tanpa adanya aksesoris tambahan, yakni biasanya para pria Mandar mengenakan aksesoris berupa penutup kepala yang kerap dikenal dengan sebutan songkok tabone.

Sementara itu pakaian adat pria Mandar juga dipadankan dengan aksesoris seperti perhiasan liontin yang disematkan di saku jas bagian sisi kiri. Tidak lupa para pria juga menggunakan sepatu pantofel atau sandal kulit sebagai alas kaki mereka.

Pakaian Adat Suku Toraja

Suku Toraja merupakan kelompok etnis yang banyak mendiami dua provinsi Sulawesi, yakni provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Suku Toraja dapat ditemukan di kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Pakaian adat suku Toraja dapat dibedakan menjadi dua, yakni pakaian yang dikenakan oleh wanita maupun pria Toraja. Sebagaimana dapat disimak penjelasan lengkapnya mengenai kedua jenis tersebut di bawah ini.

Pakaian Adat Suku Toraja Wanita

Pakaian Adat Suku Toraja Untuk Wanita
Pakaian Adat Suku Toraja untuk Wanita
https://tambahpinter.com/

Pakaian adat suku Toraja untuk wanita biasa dikenal dengan sebutan Pokko. Pakaian tradisional ini memiliki perbedaan wujud dari busana yang dikenakan.

Ciri khusus dari pakaian adat wanita Toraja adalah pakaian yang memiliki lengan pendek dengan dilengkapi berbagai aksesoris sebagai penghias penampilan sang wanita.

Pakaian tradisional ini telah digunakan para PNS wanita di setiap hari Sabtu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya pelestarian budaya khas Sulawesi Barat.

Selain digunakan sebagai baju kedinasan, pakaian adat Sulawesi Barat ini juga kerap dikenakan pada saat upacara adat pernikahan maupun tarian daerah. Para wanita Toraja kerap melakukan kegiatan dengan mengenakan baju Pokko dengan dipadukan beberapa aksesoris.

Pakaian Adat Suku Toraja Pria

Pakaian Adat Suku Toraja Untuk Pria
Pakaian Adat Suku Toraja untuk Pria
https://lombafotoastra.satu-indonesia.com/

Nama pakaian adat suku Toraja untuk kaum pria adalah Seppa Tallung Buku. Pakaian adat Sulawesi Barat ini telah digunakan oleh PNS sebagai pakaian kedinasan di instansi pemerintah daerah Sulawesi Barat. Pakaian ini biasa dikenakan di setiap hari Sabtu.

Warna dominan pada pakaian adat Sulawesi Barat ini adalah warna merah, kuning, dan putih. Keunikan lain pada pakaian tradisional ini adalah ukuran panjang dari baju ini menjuntai sampai lutut pria dewasa.

Pemakaian pakaian adat suku Toraja pria biasa dikombinasikan dengan berbagai aksesoris tambahan. Salah satunya adalah aksesoris tersebut berupa manik-manik yang dirangkai dan membentuk suatu perhiasan khas untuk ikat kepala, ikat pinggang, dan aksesoris di bagian dada. Aksesoris manik-manik ini biasa dikenal dengan Kandaure.

Kemudian ditambahkan aksesoris berupa Lipa’ yang berupa sarung sutra dengan motif yang beraneka ragam khas Sulawesi Barat. Tidak lupa juga dikenakan senjata tradisional parang Gayang yang diselipkan di bagian bawah sarung.

Aksesoris Kandaure

Aksesoris Kandaure
Aksesoris Kandaure
https://tambahpinter.com/

Kandaure merupakan salah satu aksesoris penting pada pakaian adat Sulawesi Barat khas suku Toraja. Aksesoris Kandaure digunakan bersamaan dengan pakaian adat Seppa Tallung Buku maupun pakaian adat Pokko.

Kandore merupakan aksesoris berupa manik-manik yang dirangkai hingga membentuk motif seperti ukiran khas Sulawesi Barat. Motif dari manik-manik ini disusun oleh manik-manik dengan beraneka ragam warna.

Aksesoris khas Sulawesi Barat ini kerap digunakan untuk menghiasi bagian dada, gelang, ikat kepala, maupun ikat pinggang.

Diceritakan dalam sejarah bahwa dahulu Kandaure dipercaya mengandung kekuatan dan nilai magis yang kuat, sehingga Kandaure dapat digunakan untuk ritual mendatang hujan dan sebagai perlindungan diri dari marabahaya.

Di sisi lain, aksesoris Kandaure dapat menunjukkan identitas suku Toraja dan status sosialnya. Pasalnya, dahulu Kandaure hanya dapat dikenakan oleh para bangsawan Toraja karena harga aksesoris ini cukup mahal.

Harga aksesoris ini didasarkan pada usianya, yakni semakin kuno dan masak bahan manik-manik yang digunakan, maka harganya pun akan semakin mahal.

Tenun Toraja

Tenun Toraja
Tenun Toraja
https://tambahpinter.com/

Salah satu produk budaya suku Toraja berupa kain tradisional khas Toraja, kain tersebut dikenal dengan sebutan kain tenun Toraja. Kain tradisional ini merupakan kain yang dilengkapi ciri khas dan nilai filosofis yang tinggi.

Kain tenun Toraja merupakan kain yang melambangkan keterkaitan antara manusia, alam, dan lingkungannya. Serta, masyarakat Toraja meyakini bahwa kain tenun tersebut adalah simbol kejayaan dan kemakmuran bagi suku Toraja.

Produk budaya khas Toraja ini mengalami proses pembuatan yang cukup lama dan rumit, yakni diawali dengan pemintalan serat menjadi benang, kemudian ditenun secara tradisional sampai menjadi kain.

Bahan dasar untuk pembuatan kain tenun khas Sulawesi Barat ini adalah serat kapas dan serat nanas. Karena serat nanas yang sudah mulai langka ditemukan, hingga saat ini kain tenun Toraja lebih sering berbahan dasar serat kapas.

Didasari karena proses pembuatan dan bahan dasarnya, maka tidaklah heran jika pakaian adat Sulawesi Barat ini cukup mahal. Sehingga hanya beberapa kalangan bangsawan yang dapat membeli dan memiliki kain tradisional ini.

Pakaian Adat Suku Mamasa

Suku Mamasa merupakan salah satu kelompok suku yang banyak mendiami provinsi Sulawesi Barat. Bahkan nama suku ini juga telah menjadi nama salah satu kabupaten di Sulawesi Barat, yakni Kabupaten Mamasa.

Suku Mamasa tergolong sebagai kelompok suku yang unik dan memiliki ciri khas dari adat istiadatnya, seperti salah satunya adalah pakaian budaya dari suku Mamasa ini. Pakaian tradisional dari suku Mamasa adalah pakaian yang dibedakan berdasarkan status sosial masyarakatnya.

Bagi para pemangku adat, pejabat pemerintahan, atau para bangsawan suku Sulawesi Barat tersebut memiliki pakaian khas yang dikenal dengan nama pakaian Tana’ Bulawan. Sementara bagi masyarakat umum suku Mamasa kerap mengenakan pakaian tradisional Pellembangan.

Kedua jenis pakaian adat suku Mamasa biasa dikenakan pada saat kegiatan seremonial yang bersifat penting, seperti pada saat upacara ritual adat, perayaan kemerdekaan, upacara adat kematian, maupun upacara adat pernikahan.

Pakaian adat Sulawesi Barat ini juga tidak lengkap tanpa adanya hiasan berupa aksesoris yang digunakan untuk mempercantik pakaian serta menjadi keunikan tersendiri pakaian tradisional suku Mamasa.

Kedua jenis pakaian adat suku Mamasa memiliki beberapa perbedaan yang penjelasan secara rinci dapat diamati berikut ini.

Pakaian Adat Suku Mamasa untuk Bangsawan

Pakaian Adat Suku Mamasa Untuk Bangsawan
Pakaian Adat Suku Mamasa untuk Bangsawan
https://www.selasar.com/

Pakaian adat suku Mamasa untuk Bangsawan disebut dengan pakaian adat Tana’ Bulawan. Nama Tana’ Bulawan sendiri dapat diartikan sebagai “kasta emas”.

Sehingga tidak heran jika pakaian adat Sulawesi Barat ini hanya diperuntukkan khusus bagi para bangsawan kaya yang dianggap layak menjadi pemimpin. Kepercayaan ini lahir dari pandangan masyarakat Mamasa yang meyakini bahwa seorang pemimpin haruslah seseorang yang memiliki wibawa dan tidak akan mencuri, sebab keadaan ekonominya sudah berkecukupan.

Para bangsawan biasa mengenakan pakaian adat Tana’ Bulawan di berbagai situasi dan kondisi, bahkan pada saat upacara resmi maupun tidak sekalipun. Acara resmi yang biasa dihadiri sosok penting ini adalah acara perayaan hari kemerdekaan, penyambutan pejabat pemerintah, pertemuan para kepala adat, serta upacara pernikahan dengan skala besar.

Kategori acara tidak resmi seperti menghadiri rapat biasa, menghadiri pernikahan masyarakat umum, serta acara syukuran adat Mamasa lainnya.

Pakaian ini terdiri dari busana atasan yang berupa baju dengan bentuk kemeja berwarna putih. Baju ini biasa dikenal dengan sebutan bayu pongko’. Serta dikombinasikan dengan bawahan celana pendek khas suku Mamasa. Celana khas ini dikenal dengan nama talana toraya Mamasa.

Pakaian adat Sulawesi Barat ini juga dilengkapi dengan sarung berwarna merah yang dikenal dengan sebutan samban lea. Serta terdapat pula penutup kepala berwarna putih yang disebut passapu.

Tana’ Bulawan merupakan pakaian adat Sulawesi Barat yang dapat dikenakan oleh para pria Mamasa maupun wanita suku Sulawesi Barat tersebut. Keduanya memiliki ciri khas yang sama.

Setiap pakaian daerah selalu dihiasi dengan berbagai aksesoris untuk mempercantik pakaian tradisional tersebut, serta memberikan ciri khas tersendiri bagi sang pemakai pakaian. Hal ini juga terjadi pada baju adat Tana’ Bulawan, adapun aksesoris dari pakaian adat Sulawesi Barat tersebut meliputi:

  1. Sempa sepu’ adalah tas tradisional Mamasa. Tas Sempa Sepu’ ini digunakan sebagai tempat dokumen, tempat menaruh sirih, dan aturan adat setempat.
  2. Gayang adalah senjata tradisional keris khas suku Mamasa. Keris jenis ini disimbolkan sebagai tameng pelindung diri serta menandakan bahwa zaman dahulu suku Mamasa memiliki kegemaran berburu.
  3. Sassang adalah aksesoris jumbai. Aksesoris khas Mamasa ini dibuat dari manik-manik dan dipasangkan di bagian dada serta bagian depan pinggang.
  4. Ponto Naga adalah sebutan untuk gelang khas Mamasa. Gelang Ponto Naga ini berbentuk naga dengan bahan campuran dari logam emas.
  5. Ponto lola adalah salah satu jenis gelang. Gelang khas Sulawesi Barat yang hanya dipakai para bangsawan dengan bahan campuran dari logam emas.
  6. Rara adalah perhiasan sejenis gelang. Perhiasan gelang dengan bahan campuran emas yang memiliki ukuran lebih besar dari ponto lola.
  7. Manikrarak adalah aksesoris kalung. Perhiasan kalung tradisional yang secara turun-temurun diwariskan kepada anak cucu suku Mamasa. Perhiasan khas Mamasa ini diyakini sebagai benda pusaka.
  8. Sapu’ adalah aksesoris penutup kepala yang terbuat dari kain berwarna putih, kain tradisional ini cara memakainya dengan cara dililitkan di atas kepala.
  9. Sarong adalah aksesoris topi khas Mamasa. Aksesoris ini berbentuk bundar dan berukuran lebar dengan hiasan berbentuk bulatan di bagian atasnya.
Baca Juga: Pakaian Adat

Pakaian Adat Suku Mamasa untuk Masyarakat Umum

Pakaian Adat Suku Mamasa Untuk Masyarakat Umum
Pakaian Adat Suku Mamasa untuk Masyarakat Umum
https://www.selasar.com/

Pakaian adat suku Mamasa jenis kedua adalah baju Pellembangan. Busana tradisional tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum Mamasa di Sulawesi Barat. Masyarakat umum suku Mamasa dikenal dengan sebutan kasta palem, yang diartikan sebagai golongan bukan penguasa maupun pemimpin.

Masyarakat umum ini dapat berdiri sendiri atau independen, tapi bukan juga disebut hamba sahaya. Masyarakat ini dapat diamati dengan pakaian adat yang mereka kenakan.

Salah satu ciri khas dari pakaian yang mereka kenakan adalah dominasi penggunaan warna pada pakaian adat Pellembangan yang mereka kenakan, yakni hanya boleh berwarna selain warna putih. Karena warna putih adalah warna sakral dan hanya diperuntukkan bagi pakaian adat para bangsawan suku Mamasa.

Bukan hanya pada baju atasan saja, melainkan juga pada aksesoris penutup kepala yang dikenakan masyarakat umum Mamasa juga tidak diperkenankan berwarna putih. Sehingga akan terlihat jelas status sosial masyarakat suku Sulawesi Barat tersebut.


Penutup

Itulah penjelasan lengkap mengenai pakaian adat Sulawesi Barat yang berhasil Romadecade rangkum buat kamu.

Semoga dengan menuntaskan bacaan artikel ini, semakin menambah wawasan kita terhadap budaya bangsa, serta semakin menumbuhkan rasa cinta kita kepada tanah air dan bangsa kita, Indonesia.


Pakaian Adat Sulawesi Barat
sumber referensi:

https://www.selasar.com/pakaian-adat/sulawesi-barat/
https://tambahpinter.com/pakaian-adat-sulawesi-barat/
https://pariwisataindonesia.id/jelajah/intip-baju-adat-dari-sulawesi-barat/
https://blogkulo.com/pakaian-adat-sulawesi-barat/

Default image
SHEYLA
"Merengkuh makna, mengurai rasa, menempuh asa dengan sastra cinta."

Leave a Reply

error: Content is protected !!