30+ Contoh Pantun Adat : Melayu, Minang, Jawa, Batak Terbaru

Pantun Adat

Pantun Adat – Tinggal di Indonesia, sudah pasti mengenal dengan apa itu pantun. Salah satu bentuk kesusastraan asli Nusantara ini sudah menjadi salah satu bab pelajaran wajib pada bangku sekolah.

Bahkan tak jarang, kebudayaan asli daerah pun mengajarkan tentang pantun adat yang telah ada secara turun temurun. Sayangnya, eksistensi pantun semakin tergeser dengan perkembangan budaya yang ada.

Sebagai salah satu sastra yang berakar dari adat dan budaya masyarakat, pantun dipandang kuno – atau meminjam istilah anak sekarang, jadul. Apalagi tidak ada orisinalitas dari pantun, yang dari zaman dulu bersifat anonim dan bisa dengan mudah ditiru dan disebarkanluaskan.

Meskipun demikian, melalui pelajaran bahasa yang diajarkan dari tingkat dasar hingga menengah atas, pantun masih punya sedikit ruang gerak. Dengan masuknya pantun sebagai salah satu bentuk sastra dari Indonesia, seolah menjadi bukti bahwa sastra dari adat kebudayaan masyarakat ini masih hidup.

Pantun Adat


Apa yang Dimaksud dengan Pantun Adat?

Jika ditanya apa yang membedakan pantun adat dengan bentuk pantun lainnya adalah isi yang terkandung di dalamnya. Seperti namanya, pantun ini memiliki isi berupa petuah tentang adat dan budaya setempat. Gaya bahasa yang digunakan pun mengusung kearifan lokal asli pantun tersebut berasal.

Kondisi itulah yang membuat jenis pantun ini menjadi sangat unik. Hal ini dikarenakan, setiap daerah akan memiliki pantunnya sendiri, sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat yang ada. Ditambah lagi dengan heterogenitas suku bangsa yang ada di Indonesia, maka bisa dibayangkan ada begitu banyak jenis pantun ini.

Selain berisikan tentang adat dan kebudayaan setempat, tidak ada karakteristik khusus yang membedakan jenis pantun ini dengan lainnya. Secara umum, aturan dalam pantun masih tetap diikuti, mulai dari sajak, jumlah baris, serta jumlah suku katanya.

Baca Juga: Pantun Bahasa Inggris


Contoh Pantun Adat dari Berbagai Daerah Lengkap dengan Maknanya

Membicarakan tentang pantun adat, memang akan sedikit membingungkan. Apalagi jika hanya menjelaskan tentang definisinya dengan menekankan bahwa yang disampaikan adalah tentang kearifan lokal. Untuk itu, agar pemahaman tentang pantun ini lebih mengena, simak contoh-contohnya berikut ini:


1. Pantun Adat Minangkabau

Pantun Adat Minangkabau

Cukup sulit untuk mencari referensi pustaka tentang pantun Minangkabau. Hal ini dikarenakan pantun-pantun yang ada diteruskan dari mulut ke mulut melalui cerita, pidato, nyanyian, dan sejenisnya.

Penggolongan jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari adat, nasehat, jenaka, dan lainnya. Berikut contoh kutipan pantun nasihat yang dituturkan dalam dialek Minangkabau:

Baburu ka padang data
Dapeklah ruso belang kaki
Baguru kapalang aja
Bak bungo kembang tak jadi

Pantun di atas pasti sudah sering didengar dalam versi Bahasa Indonesia-nya. Pesan yang dimiliki yaitu menyisipkan sebuah nasehat untuk tidak tanggung-tanggung dalam menuntut ilmu.

Selain pantun nasehat, ada pula jenis pantun Minangkabau lainnya. Misalnya saja, seperti kutipan pantun yang kental dengan adat budaya berikut ini:

Berek-berek turun ke semak
Dari semak tuam ke padi
Dari niniak turun ke mamak
Dari maniak turun ke kami

Di samping dibedakan berdasarkan isinya seperti dua pantun yang sudah disebutkan di atas, pantun Minangkabau juga ada yang berkait. Ciri dari pantun berkait ini yakni baris pertama dan ketiga merupakan pengulangan dari baris kedua dan keempat pada bait sebelumnya. Begini contohnya:

Mandaki ka gunuang-gunuang
Manurun ka lurah sapek
Kok ingin Tuan di buruang
Buruang urang kok indak dapek

 

Manurun ka lurah sapek
Mudiakkan banda babelok
Buruang urang kok indak dapek
Dicari gatah nan elok

 

Mudiakkan banda babelok
Piladang di tapi ladang
Dicari gatah nan elok
Tabang rang da kayu gadang

 

Piladang di tapi ladang
Takukiah katah ampelah
Kok tabang ra kayu gadang
Dicari badia nan dareh

Contoh dari pantun berkait di atas merupakan bagian dari cerita Si Umbuik Mudo pada bagian percakapan Ibu dari Umbuik dengan Ibu dari Puti Galang Banyak.


2. Pantun Adat Melayu

Pantun Adat Melayu

Suku bangsa Melayu merupakan salah satu ras dominan yang ada di Indonesia. Sampai sekarang, budayanya masih banyak yang melestarikan, termasuk dalam berpantun.

Pantun turut tumbuh dalam perkembangan budaya Melayu. Tercatat, ada 5 jenis pantun Melayu yang dikenal masyarakat berdasarkan isinya yaitu adat, tua, muda, suka, dan duka. Simak salah satu contonya berikut ini:

Adat menyuluh sarang lebang
Kalau berisi tidak bersambang
Adat penuh tidak melimpah
Kalau berisi tidaklah kurang

 

Padat tembaga jangan dituang
Kalau dituang melepuh jari
Adat lembaga jangan dibuang
Kalau dibuang binasa negeri

 

Lebat kayu pantang ditebang
Sudah berbuah lalu berdaun
Adat melayu jangan dibuang
Sudah pusaka turun temurun

Rangkaian pantun di atas merupakan pantun Melayu yang berisikan petuah adat istiadat. Isinya mengajarkan agar generasi muda tidak membuang nilai-nilai budaya Melayu sebagai sebuah identitas diri. Pantun tersebut merupakan sebuah pesan moral yang tidak sepatutnya ditinggalkan.

Kalau ada selasih dulang
Kami menumpang ke Jawa saja
Buah hati kekasih orang
Kami menumpang ketawa saja

 

Hilang kemana bintang kartika?
Tidak nampak di awan lagi
Hilang kemana adik seketika
Tidak nampak berjalan lagi

 

Pisang serendah masaknya hijau
Ditunggu layu tak mau layu
Tinggi rendah mata meninjau
Ditunggu lalu tak mau lalu

Jika pantun Melayu yang pertama berisikan tentang petuah adat, maka contoh yang kedua merupakan pantun muda. Jenis pantun ini biasanya berisikan tentang cinta yang sering dikaitkan dengan dunianya anak muda yang tengah kasmaran.


3. Pantun Adat Jambi

Pantun Adat Jambi

Sama halnya dengan dua poin yang telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat Jambi yang masih termasuk dalam rumpun Melayu juga memiliki budaya berpantun.

Kerap kali budaya berpantun Jambi ini dipertontonkan dalam berbagai upacara adat. Yang paling sering adalah upacara lamaran dan pernikahan, penyambutan tamu, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh pantun dari Jambi ini:

Cerah nian nampaknya pagi
Bersinar terang matahari
Riang nian nampaknya hati
Senyum riang tak tersembunyi

 

Kalaulah boleh saya berbagi
Berbagi pantun adat nan lamo
Kalaulah boleh saya menyapa kanti
Sapo bapantun budaya lamo

 

Elok nian rumah itu
Berpagar keliling teralis besi
Elok nian pemuda itu
Siang malam selalu mengaji

 

Indah tampak mawar berduri
Tersusun rapi di depan rumah
Indah ruma si anak Jambi
Sebab akhlak nan mulia

 

Elok nian gentala arasy
Hilir mudik orang menyeberang
Elok nian si gadis Jambi
Tutur sapo masih digunokan

Sedikit berbeda dengan contoh-contoh pantun yang disebutkan sebelumnya, kelima bait pantun Jambi ini tidaklah serangkaian.

Melainkan, masing-masing bait berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan bait lainnya. Yang menyamakan kelimanya adalah maksud dari pantun hendak menuturkan tentang keelokan sifat dan sikap yang dimiliki oleh muda-mudi di Jambi.

Baca Juga: Pantun Assalamualaikum


4. Pantun Adat Batak

Pantun Adat Batak

Satu lagi adat-istiadat yang tidak melepaskan pantun begitu saja, yakni Batak. Bagi orang Batak, berpantun merupakan salah satu jati diri.

Bahkan ada istilah marumpama umpasa yang dalam Bahasa Indonesia artinya berbalas pantun. Biasanya marampuma umpasa ini berisikan nasehat dan petuah. Berikut beberapa contoh pantun Batak:

Bona ni rambutan marparbeu godang
Godang gantung dipakkal ni ratting
Molo marunding dohot jolma na bijak
Hadangolan pe mago

Pantun tersebut berisikan nasehat bahwa saat ada masalah yang sulit dipecahkan, maka rundingkanlah dengan orang yang dianggap bijak. Dengan berunding bersama orang bijak, maka masalah yang ada akan bisa mendapatkan pemecahannya.

Sada silompa gadong dua silompa ubi
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli
Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
Unang maharaptu tu dongan

Untuk pantun Batak yang kedua, memiliki pesan agar tidak bergantung siapa pun kecuali diri sendiri. Alasannya karena, jika menggantungkan harapan pada orang lain akan berujung kecewa. Dengan mengandalkan diri sendiri, maka akan bisa menghindari rasa kecewa dan tidak menumpuk ekspektasi berlebih.

Binahen pe umpasa
Nidok pasu pasuan
Tangian mai diDebata
Asa denggan hamu dihanggoluan

Pantun yang ketiga ini merupakan sebuah pengingat agar berdoa hanya kepada Tuhan. Seperti yang kita tahu, orang Batak memang terkenal memegang teguh keyakinan yang mereka anut. Itulah mengapa, pantun dengan nuansa ketuhanan seperti ini pun bisa dengan mudah ditemukan.

Satu keunikan yang dimiliki oleh pantun Batak ini terletak pada bagian ‘penutupnya’. Biasanya, setelah marumpama-umpasa sudah ‘selesai’ disajikan, maka para hadirin pun harus menjawab “Emmatutu” yang berarti setuju. Maksudnya adalah orang-orang yang hadir menyetujui dengan isi yang disampaikan dalam pantun.

Baca Juga: Pantun Bahasa Banjar


5. Pantun Adat Betawi

Pantun Adat Betawi

Dibandingkan Jawa atau Melayu, Betawi tergolong suku yang kecil. Meski demikian, eksistensinya tidak boleh diragukan. Terlebih lagi, budaya betawi sering diangkat ke layar – baik layar lebar maupun layar kaca, khususnya pada dekade 70-an sampai 80-an. Jadi, sudah bukan sesuatu yang asing jika mendengar orang Betawi berpantun.

Pantun kerap digambarkan sebagai bagian keseharian bagi masyarakat betawi. Pantunnya pun tak melulu soal percintaan ataupun adat istiadat. Kerap kali, pantun yang dilontarkan adalah hal-hal jenaka sebagai satire terhadap kehidupan. Berikut beberapa pantun asli Betawi:

Dari mane datangnye lintah
Dari sawah turun ke kali
Daripada urusannye mentah
Mending santai sambil ngopi

 

Dari sawah turun ke kali
Di kali banyak pohon pepaye
Sore emang enaknya ngopi
Apalagi ada temennye

 

Ikan cere matinya direndem
Ambil topi sama songkok di belakang
Sore-sore suasanenye adem
Sambil ngopi sama rokok sebatang


Penutup

Ketiga bait pantun di atas merupakan pantun dengan dialek khas Betawi yang berisikan tentang keengganan masyarakat untuk menyusahkan diri. Lebih baik menikmati hidup dengan kopi dan rokok, daripada memusingkan masalah yang tidak diketahui penyelesaiannya.

Maksud lain yang bisa ditangkap adalah bahwa hidup itu untuk dinikmati, bukan untuk dibuat susah. Sebagai sastra asli Indonesia, keberadaan pantun memang sudah selayaknya dilestarikan. Apalagi adanya pantun selalu berkaitan erat dengan budaya dan adat-istiadat lokal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tak jarang, sebuah upacara ritual yang kental dengan adat budaya tak pernah meninggalkan pantun sebagai bagian yang harus ada. Tak hanya pantun adat atau pantun lainnya yang sudah ada dan diturunkan secara lisan dengan turun-temurun.

Fleksibilitas yang dimiliki pantun pun memungkinkan adanya inovasi yang lebih impromptu dan bisa disesuaikan dengan tempat dan kondisi yang ada. Dengan begitu, pantun pun bisa menjadi salah satu identitas bangsa dan bisa dibanggakan.

Pantun Adat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.